Dinamikasumbawa.com
SUMBAWA — Kabupaten Sumbawa masih menjadi salah satu titik persinggahan dalam rangkaian Sail Indonesia 2026. Pemerintah Kabupaten Sumbawa kini menyiapkan sejumlah destinasi wisata yang akan menjadi tujuan para wisatawan mancanegara yang datang menggunakan kapal layar.
Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Sumbawa, Muhammad Irfan, mengatakan pihaknya telah menerima daftar manifest kapal yang akan berlayar di perairan Indonesia selama rangkaian kegiatan tersebut. Berdasarkan data sementara, sekitar 30 kapal dari 18 hingga 20 negara akan mengikuti perjalanan yang berlangsung selama kurang lebih dua bulan.
“Sumbawa akan disinggahi pada 17 sampai dengan 21 September 2026,” kata Irfan, Kamis (20/8/2026).
Sumbawa masuk dalam salah satu dari 22 titik persinggahan yang tercantum dalam rute pelayaran Sail Indonesia tahun ini. Rombongan kapal layar tersebut akan bergerak dari wilayah timur Indonesia sebelum memasuki sejumlah destinasi wisata di Nusa Tenggara.
Irfan menjelaskan, sebagian besar peserta berasal dari Australia. Para peserta memulai perjalanan dari kawasan Raja Ampat, Papua, kemudian bergerak menuju Labuan Bajo. Setelah itu, rombongan singgah di Bima sebelum memasuki kawasan Teluk Saleh, Sumbawa.
Pemkab Sumbawa menyiapkan dua atraksi utama untuk menyambut para wisatawan mancanegara tersebut. Pemerintah mengarahkan rombongan menuju Labuhan Jambu untuk menikmati atraksi hiu paus. Setelah itu, pemerintah juga menawarkan atraksi budaya Barapan Kebo sebagai pengalaman khas Sumbawa.
“Icon utama yang kami suguhkan kepada mereka itu hiu paus. Atraksi itu yang paling menarik. Kemudian icon yang kedua, atraksi yang kedua itu Barapan Kebo,” ujarnya.
Labuhan Jambu menjadi salah satu lokasi penting dalam rangkaian kunjungan karena kawasan tersebut memiliki daya tarik hiu paus. Pemerintah daerah juga memasukkan Festival Hiu Paus sebagai salah satu agenda yang dapat menarik perhatian wisatawan selama berada di Sumbawa.
Selain Labuhan Jambu, rombongan kapal layar akan berlabuh di Pelabuhan Badas. Kapal-kapal tersebut diperkirakan berada di kawasan itu selama tiga hingga empat hari. Pemkab Sumbawa menyiapkan rencana penyambutan secara seremonial bagi para wisatawan mancanegara yang tiba melalui jalur laut tersebut.
Irfan mengatakan pemerintah masih membahas lokasi penyambutan, termasuk opsi Pantai Kaligrafi atau Pelabuhan Badas. Pelabuhan Badas menjadi titik jangkar kedua setelah rombongan menikmati destinasi di kawasan Teluk Saleh.
Untuk mendukung kunjungan tersebut, Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Sumbawa melalui bidang pemasaran telah menyiapkan informasi mengenai sejumlah destinasi wisata. Informasi tersebut telah masuk dalam data yang disampaikan kepada para yachter atau wisatawan pengguna kapal layar.
Menurut Irfan, pemerintah tidak ingin terlalu banyak mengatur perjalanan wisatawan selama berada di Sumbawa. Pemerintah justru memberikan ruang kepada mereka untuk memilih dan menikmati destinasi berdasarkan minat masing-masing.
“Wisatawan ini lebih menyukai dan menikmati hubungan yang sifatnya natural. Tidak perlu banyak yang diskemakan,” ujarnya.
Meski demikian, Pemkab Sumbawa tetap menyiapkan koordinasi lintas sektor. Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata akan menggelar rapat koordinasi pada awal September untuk memastikan seluruh kebutuhan selama kedatangan wisatawan mancanegara dapat tertangani.
Rapat tersebut akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah daerah akan mengundang unsur imigrasi, karantina, pemandu wisata, biro perjalanan, serta pihak lain yang berkaitan dengan pelayanan dan pergerakan wisatawan.
Irfan mengatakan keterlibatan imigrasi menjadi penting karena rombongan datang dari berbagai negara. Sementara itu, petugas karantina akan berperan dalam melakukan pemeriksaan terhadap kapal dan kebutuhan lain yang berkaitan dengan prosedur kedatangan dari luar negeri.
“Kedatangan tamu-tamu mancanegara ini banyak stakeholder yang dilibatkan, terutama rekan-rekan yang bergerak di jalur vertikal. Imigrasi penting, kemudian teman-teman dari karantina untuk pengecekan kapal dan sebagainya,” katanya.
Pemkab Sumbawa juga akan melibatkan pelaku usaha pariwisata dalam rapat koordinasi tersebut. Pemerintah ingin mendapatkan masukan dari pemandu wisata dan agen perjalanan mengenai potensi atraksi tambahan yang dapat ditawarkan kepada para peserta Sail Indonesia.
Masukan tersebut akan digunakan untuk memperkaya pilihan aktivitas wisata selain paket-paket perjalanan yang sebelumnya telah diinformasikan kepada para yachter.
Irfan mengatakan atraksi hiu paus dan Barapan Kebo masih menjadi dua agenda utama yang dipersiapkan untuk rombongan. Namun, pemerintah tidak melakukan persiapan khusus secara berlebihan karena pelaku wisata di Labuhan Jambu sudah terbiasa menangani wisatawan yang datang untuk menikmati atraksi hiu paus.
“Kalau persiapan khusus tidak terlalu dispesialkan karena memang rutin,” ujarnya.
Pengelola wisata di Labuhan Jambu, kata Irfan, sudah memahami teknis membawa wisatawan menuju lokasi pengamatan hiu paus. Para pemandu juga telah memiliki pengalaman mendampingi wisatawan sehingga mereka dapat menikmati atraksi tersebut dengan tetap memperhatikan kondisi lapangan.
Untuk Barapan Kebo, pemerintah berencana menampilkan atraksi dalam skala lebih kecil. Pemkab Sumbawa tidak perlu menggelar Barapan Kebo dengan jumlah peserta dan kerbau sebanyak pelaksanaan reguler. Pemerintah cukup menampilkan beberapa pasang kerbau agar wisatawan dapat mengenal tradisi tersebut secara langsung.
“Bisa diupayakan penyelenggaraan seperti mini Barapan Kebo. Tidak seperti Barapan Kebo yang banyak. Yang penting mereka bisa melihat ada tiga atau empat pasang kerbau,” kata Irfan.
Konsep tersebut juga memungkinkan wisatawan merasakan pengalaman yang lebih dekat dengan tradisi lokal. Pemerintah dapat memberikan kesempatan kepada wisatawan, untuk melihat secara langsung persiapan atraksi hingga menjadi joki dalam Barapan Kebo.
Menurut Irfan, pengalaman tersebut menjadi bagian yang menarik bagi wisatawan. Karena, mereka tidak hanya menyaksikan atraksi dari jarak jauh, tetapi juga dapat memahami bagaimana tradisi Barapan Kebo berlangsung di tengah masyarakat Sumbawa. (DS/02)

