Dinamikasumbawa.com
SUMBAWA— Pemerintah Kabupaten Sumbawa melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) mengusulkan tiga proyek investasi dalam ajang Investment Project Ready to Offer (IPRO) 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia. Ketiga proposal tersebut kini menunggu proses kurasi sebelum ditawarkan kepada calon investor.
Sekretaris DPMPTSP Kabupaten Sumbawa, H. Iyang Syahruddin, mengatakan proposal yang diajukan mencakup sektor peternakan, perikanan, dan pariwisata. Ketiga sektor itu dipilih karena dinilai memiliki keunggulan komparatif sekaligus menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.
“Ketiga proposal itu sudah kami usulkan ke Bank Indonesia. Saat ini kami tinggal menunggu hasil kurasi sebagai tahapan penilaian sebelum ditawarkan kepada investor,” ujarnya, Rabu (29/7/2026).
Menurut Iyang, keikutsertaan Kabupaten Sumbawa dalam IPRO merupakan upaya pemerintah daerah memperluas peluang investasi sekaligus mendorong percepatan pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal. Melalui program tersebut, proyek-proyek yang telah memenuhi aspek kelayakan akan dipromosikan kepada investor nasional maupun internasional.
Ia menjelaskan, sektor perikanan menjadi salah satu andalan dalam proposal yang diajukan. Komoditas udang dipilih karena selama ini menjadi penyumbang produksi terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Namun, sebagian besar hasil produksi masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah yang diterima daerah dan pelaku usaha masih relatif rendah.
“Produksi udang kita sangat besar, tetapi sebagian besar masih dijual keluar daerah dalam bentuk bahan mentah. Kondisi ini membuat nilai tambahnya belum dinikmati secara maksimal oleh masyarakat maupun pelaku usaha di Sumbawa,” katanya.
Selain perikanan, sektor pariwisata juga menjadi fokus pengembangan investasi. Pemerintah daerah menilai potensi wisata Sumbawa masih sangat terbuka untuk dikembangkan, terutama wisata bahari yang didukung keberadaan hiu paus sebagai salah satu daya tarik utama.
“Ada banyak potensi wisata yang dapat dikembangkan. Keberadaan hiu paus menjadi salah satu ikon yang mampu menarik minat wisatawan sehingga diharapkan dapat meningkatkan investasi di sektor pariwisata,” ujarnya.
Sementara itu, sektor peternakan juga masuk dalam daftar proyek yang ditawarkan mengingat Sumbawa dikenal sebagai salah satu daerah dengan populasi ternak terbesar di Nusa Tenggara Barat. Pengembangan investasi di sektor ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat hilirisasi hasil peternakan.
Di sisi lain, DPMPTSP juga terus mengawal rencana investasi di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) berupa pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan nilai investasi mencapai Rp1,8 triliun. Saat ini proses penyusunan feasibility study (FS) atau studi kelayakan serta Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) masih berlangsung.
“Proses penyusunan FS dan Amdal terus berjalan. Kami juga sudah dua kali melakukan pertemuan dengan investor bersama Bank Indonesia untuk mempercepat realisasi investasi tersebut,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, studi kelayakan dilakukan untuk memastikan kesiapan lokasi dan berbagai aspek teknis sebelum proyek dilaksanakan. Menurutnya, Kabupaten Sumbawa masuk dalam lima besar daerah yang dinilai layak menjadi lokasi pengembangan investasi energi terbarukan sehingga menarik perhatian investor.
Rencananya, proyek PLTS tersebut akan dibangun di kawasan Teluk Santong dengan konsep pembangkit listrik tenaga surya terapung di atas laut. Keberadaan proyek itu diharapkan mampu memenuhi kebutuhan energi di kawasan sekitar sekaligus memperkuat bauran energi bersih di Kabupaten Sumbawa.
Melalui pengajuan tiga proposal investasi di IPRO 2026 dan pengembangan proyek energi terbarukan, Pemerintah Kabupaten Sumbawa berharap arus investasi ke daerah terus meningkat. Masuknya investor diyakini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan, serta mempercepat pembangunan daerah. (DS/02)

