Dinamikasumbawa.com
SUMBAWA- Kabupaten Sumbawa mulai mengembangkan transformasi sektor peternakan berbasis teknologi digital melalui program bertajuk Sumbawa Digital Ranch. Program tersebut mengintegrasikan sistem peternakan sapi umbaran berbasis Artificial Intelligence dan Internet of Things (AI-IoT), marketplace investasi ternak digital, hingga konsep smart livestock tourism atau wisata peternakan cerdas.
Program itu dibahas dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Sumbawa Digital Ranch: Sistem Peternakan Sapi Umbaran Berbasis AI-IoT dengan Integrasi Marketplace Investasi Ternak Digital dan Smart Livestock Tourism” yang digelar di Aula Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Sumbawa, Rabu (20/5/2026).
Kegiatan tersebut dibuka langsung Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sumbawa, Saifuddin, S.P. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Kabupaten Sumbawa memiliki potensi peternakan yang sangat besar dengan populasi sapi mencapai sekitar 317 ribu ekor.
“Populasi sapi di Kabupaten Sumbawa saat ini tercatat sekitar 317.000 ekor. Ini cukup besar dibandingkan kabupaten tetangga di wilayah timur. Potensi ini harus kita manfaatkan dengan baik melalui inovasi dan teknologi,” ujarnya.
Menurut Saifuddin, besarnya populasi ternak tersebut menjadi modal penting untuk mendorong lahirnya sistem peternakan modern yang lebih efisien dan terintegrasi dengan teknologi digital.
Ia menjelaskan, konsep pengembangan peternakan digital tersebut tidak hanya berfokus pada pengelolaan ternak, tetapi juga diarahkan untuk mendukung sektor pariwisata dan investasi masyarakat. Kawasan Sebasang dan Lenangguar disebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata peternakan terintegrasi.
“Kita punya dua lokasi wisata di Sebasang dan Lenangguar, mudah-mudahan nanti bisa saling mendukung dan menutupi kekurangan satu sama lain,” katanya.
Saifuddin berharap program tersebut tidak berhenti pada tahap penelitian semata, melainkan dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang.
“Harapan saya jangan sampai setelah kegiatan ini selesai, programnya ikut selesai. Kita harus bekerja sama supaya hasil penelitian dan inovasi ini bisa terus berlanjut dan dimanfaatkan masyarakat. Insya Allah saya akan mendukung program ini selama saya masih menjabat,” tegasnya.
FGD tersebut menghadirkan Ketua Konsorsium Universitas AMIKOM Yogyakarta, Prof. Kusrini, bersama tim peneliti dari Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) dan ITB STIKOM Bali. Kegiatan itu juga melibatkan DPKH Kabupaten Sumbawa dan mitra dunia usaha CV. Mataram Karya.
Dalam pemaparannya, Prof. Kusrini menjelaskan bahwa pengembangan Sumbawa Digital Ranch mendapat dukungan melalui program hibah Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
“Kami jauh-jauh datang ke Sumbawa dan alhamdulillah mendapat dukungan dari kementerian. Kami juga diberikan fasilitas pengadaan beberapa peralatan yang nantinya digunakan untuk eksperimen dan uji coba pengembangan sektor peternakan sapi umbaran berbasis AI-IoT,” ujarnya.
Menurut Prof. Kusrini, Kabupaten Sumbawa dipilih karena memiliki karakteristik peternakan sapi umbaran yang khas dan berpotensi besar dikembangkan melalui teknologi digital. Sebelum pelaksanaan FGD, tim peneliti telah melakukan observasi di sejumlah kawasan peternakan seperti Sebasang dan Lenangguar.
Dalam konsep tersebut, sejumlah teknologi akan diterapkan, di antaranya Animal Intelligent System yang memungkinkan kondisi ternak dipantau secara real-time menggunakan perangkat AI-IoT. Sistem itu dapat memantau suhu tubuh, pergerakan, posisi GPS, hingga membatasi area jelajah ternak secara virtual.
Selain itu, tim peneliti juga mengembangkan sistem deteksi berat badan sapi berbasis kamera ponsel dan teknologi pengenalan wajah sapi menggunakan kecerdasan buatan. Teknologi tersebut memungkinkan identifikasi ternak dilakukan secara otomatis dan lebih akurat.
“Setiap sapi nantinya dipasangi identitas digital. Ketika melewati titik tertentu, sistem akan langsung membaca data ternak tersebut. Berat badan, pertumbuhan, hingga estimasi waktu panen atau pemotongan dapat dipantau otomatis melalui dashboard,” jelasnya.
Tidak hanya fokus pada pengembangan teknologi peternakan, program tersebut juga akan diintegrasikan dengan marketplace investasi ternak digital. Melalui sistem itu, masyarakat nantinya dapat berinvestasi di sektor peternakan secara modern dan transparan.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara konsorsium perguruan tinggi dengan Pemerintah Kabupaten Sumbawa sebagai bentuk komitmen bersama dalam pengembangan inovasi peternakan berbasis teknologi.
Melalui program Sumbawa Digital Ranch, Pemerintah Kabupaten Sumbawa bersama kalangan akademisi berupaya mendorong transformasi sektor peternakan menuju sistem yang lebih modern, efisien, berbasis teknologi digital, tanpa meninggalkan karakteristik peternakan tradisional khas Sumbawa. (DS/02)

