Dinamikasumbawa.com
SUMBAWA- Pemerintah Kabupaten Sumbawa resmi menjalin kerja sama strategis dengan Yayasan CARE Indonesia, dalam upaya mempercepat peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat, melalui sejumlah program pembangunan berbasis desa.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan yang berlangsung di Ruang Rapat H Hasan Usman Lantai I Kantor Bupati Sumbawa, Rabu (20/5/2026), dan dihadiri langsung oleh Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P.
Turut hadir dalam kegiatan itu Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Kepala Inspektorat, Kepala Bapperida, serta sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Dalam sambutannya, Bupati Sumbawa menegaskan bahwa kolaborasi dengan CARE Indonesia merupakan langkah strategis pemerintah daerah dalam memperkuat program pemberdayaan masyarakat, khususnya di bidang kesehatan anak, perlindungan perempuan dan anak, penguatan ekonomi keluarga, serta ketahanan lingkungan.
“Saya senior di CARE sejak organisasi ini masih kecil dulu. Jadi tidak perlu berpanjang kata, karena saya memahami CARE memiliki kompetensi di bidang pemberdayaan dan kepedulian terhadap masyarakat,” ujar Bupati.
Ia menjelaskan, terdapat tiga program prioritas yang akan menjadi payung utama kerja sama tersebut, yakni penguatan ekonomi masyarakat, penanganan lingkungan dan persampahan, serta pemberdayaan kawasan pesisir.
Menurut Bupati, kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan agar program pembangunan dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran. Karena itu, ia meminta seluruh OPD mampu mengembangkan program turunan yang selaras dengan arah kebijakan daerah.
“Kita tidak perlu menangani semuanya sendiri. Dengan CARE Indonesia, kita bisa berkolaborasi agar program berjalan lebih optimal,” katanya.
Bupati juga menyoroti persoalan lingkungan yang hingga kini masih menjadi tantangan serius di Kabupaten Sumbawa, terutama terkait kerusakan kawasan hutan dan lahan kritis.
Meski kewenangan kehutanan berada di tingkat pemerintah provinsi, menurutnya, dampak kerusakan tetap dirasakan langsung oleh masyarakat Kabupaten Sumbawa sehingga diperlukan sinergi lintas sektor dalam penanganannya.
“Karena itu kami membuat program khusus. Kewenangan hutan memang di provinsi, tetapi masyarakat yang terdampak ada di Kabupaten Sumbawa. Saya juga sudah meminta Gubernur untuk memperkuat Satgas Penanganan Hutan,” jelasnya.
Dalam mendukung program agroforestri, Bupati menawarkan pengembangan komoditas porang sebagai proyek percontohan di Kabupaten Sumbawa. Pemerintah daerah, kata dia, siap menyediakan bibit porang dalam jumlah besar bagi masyarakat.
“Porang ini sangat adaptif karena bisa tumbuh di bawah naungan. Demplot yang sudah dibuat hasilnya cukup baik, tinggal diperkuat pengamanannya agar tidak dimakan ternak. Kami persilakan CARE membuat pilot project di Sumbawa,” ujarnya.
Selain itu, Bupati juga menyinggung sejumlah persoalan pembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah, mulai dari inflasi akibat kenaikan harga cabai, kemiskinan ekstrem, hingga stunting.
Ia mengungkapkan, peningkatan angka kemiskinan dalam pendataan terbaru turut dipengaruhi banyaknya pendatang yang bekerja di sektor pertanian dan konstruksi namun tinggal di rumah tidak layak huni.
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan CARE Indonesia, Dr. Abdul Wahib Situmorang, menyampaikan bahwa kerja sama tersebut merupakan bagian dari komitmen CARE Indonesia dalam mendukung pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada kelompok rentan, khususnya perempuan.
“CARE di Indonesia sudah hadir sejak tahun 1967. Kini kami ingin melanjutkan kerja sama dengan berbagai inovasi yang selaras dengan visi pembangunan Kabupaten Sumbawa,” katanya.
Abdul Wahib menjelaskan, program pertama yang akan dikembangkan adalah agroforestri berbasis perdagangan karbon melalui pengembangan komoditas kopi, kakao, dan kemiri yang terintegrasi dengan perdagangan karbon.
Kabupaten Sumbawa bahkan diusulkan menjadi lokasi percontohan perdagangan karbon berbasis kelompok masyarakat.
Menurutnya, CARE Indonesia saat ini tengah menjalin komunikasi dengan sejumlah mitra nasional dan internasional, di antaranya Nature dari Australia dan Bumi Hijau dari Jakarta, untuk mendukung pengembangan program tersebut.
Program kedua adalah pengembangan ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah organik berbasis maggot Black Soldier Fly (BSF). Model pengolahan sampah tersebut sebelumnya telah diterapkan di Depok dan Sumatera Selatan dengan kapasitas pengolahan mencapai dua ton per hari.
“Maggot nantinya diolah menjadi pakan ikan, sedangkan kotorannya menjadi pupuk organik untuk hortikultura. Hasilnya juga dapat mendukung kebutuhan Dapur Makan Bergizi Gratis,” jelas Abdul Wahib.
Program pengelolaan sampah tersebut direncanakan diterapkan di empat kecamatan di Kabupaten Sumbawa dan dinilai berpotensi menghasilkan pendapatan tambahan dari sektor karbon limbah.
Adapun program ketiga adalah penguatan ekonomi perempuan pesisir melalui pemberdayaan kelompok perempuan yang terintegrasi dengan perlindungan kawasan lingkungan.
“CARE telah memperoleh dukungan pendanaan untuk pelaksanaan program ini di Kabupaten Sumbawa,” tambahnya.
Abdul Wahib berharap ketiga program prioritas tersebut dapat berjalan sejalan dengan visi pembangunan Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan mampu menekan angka kemiskinan di daerah. (DS/02)

