Dinamikasumbawa.com
SUMBAWA– Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Sumbawa masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram, untuk memastikan penyebab dugaan keracunan yang menimpa 34 siswa di Kecamatan Tarano, setelah menyantap makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dikes telah mengirimkan sejumlah sampel makanan yang dikonsumsi para siswa ke BBPOM Mataram. Pemeriksaan tersebut bertujuan mengidentifikasi kemungkinan adanya kontaminasi, atau faktor lain yang menyebabkan puluhan siswa mengalami gangguan kesehatan, setelah mengonsumsi menu MBG.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H. Sarip Hidayat, mengatakan pihaknya belum bisa memastikan penyebab kejadian tersebut. Dikes masih menunggu hasil uji laboratorium, sebagai dasar untuk mengetahui faktor pemicu dugaan keracunan tersebut.
“Sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan masih kami kirim ke Balai POM,” ungkap Sarip kepada wartawan, Rabu (4/11/2026).
Sarip menjelaskan, sampel makanan yang dikirim merupakan menu MBG yang disajikan kepada para siswa saat kejadian. Menu tersebut terdiri atas nasi, tahu cabai garam, telur woku, capcai, dan anggur.
Pihak penyelenggara MBG sebelumnya telah menyisihkan sebagian makanan dan menyimpannya di dalam lemari pendingin. Penyimpanan tersebut, merupakan bagian dari standar operasional prosedur (SOP). Hal ini untuk mengantisipasi, apabila muncul kejadian yang berkaitan dengan keamanan pangan.
Menurut Sarip, penyedia MBG wajib menyimpan sampel makanan selama 2 x 24 jam, setelah penyajian. Ketentuan ini memungkinkan petugas mengambil sampel makanan yang sama, untuk menjalani pemeriksaan apabila penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan.
“Dalam standar operasional MBG, setelah penyajian makanan, mereka harus menyimpan makanan tersebut di dalam kulkas selama 2 x 24 jam. Jadi, kalau ada kejadian seperti ini, sampel makanannya sudah tersedia dan semuanya kami kirim ke Balai POM,” jelasnya.
Ia menegaskan, hasil pemeriksaan laboratorium menjadi acuan penting untuk memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut. Karena itu, Dikes belum dapat menyimpulkan bahwa salah satu menu yang disajikan menjadi sumber masalah, sebelum menerima hasil pengujian dari BBPOM Mataram.
Sarip memperkirakan pemeriksaan membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua minggu. Rentang waktu tersebut diperlukan, hingga laboratorium menyelesaikan pengujian dan mengeluarkan hasil pemeriksaan sampel makanan.
“Belum diketahui penyebabnya. Sampel sudah kami kirim. Biasanya membutuhkan waktu satu sampai dua minggu sampai hasilnya keluar,” pungkasnya. (DS/02)

