Festival Paroso Ditutup, Budaya Samawa Didorong Go Digital

Dinamikasumbawa.com

SUMBAWA— Festival Budaya Paroso Kecamatan Moyo Hilir resmi berakhir, Minggu malam (9/8/2026). Namun, Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., menegaskan berakhirnya festival tidak boleh menghentikan semangat masyarakat untuk merawat dan mengembangkan budaya Samawa.

Bupati Sumnawa, menutup secara resmi rangkaian Festival Budaya Paroso 2026 yang telah berlangsung selama sepekan. Festival tersebut menjadi ruang bagi masyarakat Moyo Hilir untuk menampilkan sekaligus memperkenalkan beragam seni dan tradisi Samawa kepada masyarakat luas.

Mengusung tema “Merawat Warisan, Menggerakkan Peradaban,” Festival Budaya Paroso menghadirkan berbagai kegiatan yang melibatkan ribuan peserta dari berbagai kalangan. Masyarakat tidak hanya menyaksikan pertunjukan budaya, tetapi juga terlibat langsung dalam menjaga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sejumlah kesenian dan permainan tradisional tampil dalam festival tersebut. Masyarakat menghidupkan permainan Kolo dan Rabanga, pawai budaya, Sakeco, Ngumang, Bakelung, Rabalas Lawas hingga Ratib Rabana Ode. Rangkaian kegiatan itu menghadirkan suasana meriah sekaligus memperlihatkan kekayaan budaya yang masih tumbuh di tengah masyarakat Moyo Hilir.

Dalam sambutannya, Bupati mengatakan, masyarakat hanya menutup rangkaian acara, bukan semangat untuk menjaga budaya Samawa.

“Yang kita tutup malam ini hanyalah rangkaian acaranya, bukan semangat budayanya,” ujar Bupati.

Menurutnya, tingginya partisipasi masyarakat selama Festival Budaya Paroso menunjukkan bahwa budaya Samawa masih hidup dan memiliki tempat kuat di tengah masyarakat. Ia menilai antusiasme generasi muda menjadi modal penting untuk memastikan berbagai tradisi lokal tidak hilang di tengah perubahan zaman.

Bupati menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh memandang budaya sebatas pakaian adat, tarian, musik, atau pertunjukan tradisional. Lebih dari itu, budaya menjadi bagian dari identitas dan jati diri masyarakat.

Karena itu, Bupati mengajak generasi muda Moyo Hilir untuk bangga menjadi Tau Samawa. Ia juga meminta anak muda memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memperkenalkan seni dan budaya Sumbawa kepada masyarakat yang lebih luas.

Menurut Bupati, kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat generasi muda meninggalkan akar budaya. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat baru untuk memperkuat eksistensi budaya Samawa di tengah arus globalisasi.

“Kita boleh menguasai teknologi, mengikuti perkembangan zaman dan menjadi generasi modern. Tetapi jangan sampai kita menjadi generasi yang maju teknologinya, tetapi lupa budayanya,” tegasnya.

Bupati bahkan mendorong para pelaku seni dan generasi muda untuk membawa kesenian tradisional Samawa ke berbagai platform digital. Ia menyebut TikTok, YouTube, dan Instagram sebagai ruang yang dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan Lawas, Sakeco, Ngumang, dan berbagai seni tradisional lainnya kepada publik yang lebih luas.

Menurutnya, penggunaan media digital dapat membuka peluang baru bagi budaya Samawa untuk dikenal tidak hanya di Sumbawa, tetapi juga di tingkat nasional bahkan internasional.

“Bawa budaya kita ke ruang digital, bukan untuk mengubah jati diri kita, tetapi untuk menunjukkan kepada dunia: inilah Tau Samawa, inilah budaya kami,” ujarnya.

Dorongan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berjalan dengan cara-cara lama. Generasi muda dapat menggunakan kreativitas dan teknologi untuk mengemas tradisi agar lebih mudah diterima masyarakat, tanpa menghilangkan nilai dan identitas yang terkandung di dalamnya.

Bupati juga melihat Festival Budaya Paroso memiliki potensi lebih besar jika terus dikembangkan secara konsisten. Menurutnya, festival budaya tidak hanya berfungsi sebagai agenda pelestarian tradisi, tetapi juga dapat menjadi penggerak kreativitas masyarakat, promosi pariwisata, dan pertumbuhan ekonomi lokal.

Untuk itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga keberlanjutan Festival Budaya Paroso. Pemerintah kecamatan, pemerintah desa, seniman, budayawan, pemuda, dan masyarakat perlu terus membangun kolaborasi agar kegiatan tersebut dapat berkembang dari tahun ke tahun.

Bupati menyampaikan apresiasi kepada Camat Moyo Hilir, panitia pelaksana, para kepala desa, seniman dan budayawan, pemuda, serta seluruh masyarakat yang telah bergotong royong menyukseskan Festival Budaya Paroso 2026.

Ia menilai keterlibatan masyarakat menjadi kekuatan utama festival. Tanpa partisipasi masyarakat, berbagai kesenian dan tradisi lokal tidak akan mudah bertahan menghadapi perubahan zaman.

“Mari kita jadikan festival ini bukan hanya sebagai ruang untuk melestarikan budaya, tetapi juga sebagai ruang untuk menggerakkan kreativitas, pariwisata dan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (DS/02)

Articles You Might Like

Share This Article

Get Your Weekly Sport Dose

Subscribe to TheWhistle and recieve notifications on new sports posts