Dinamikasumbawa.com
SUMBAWA- Upaya penemuan kasus tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Sumbawa pada tahun 2025 masih belum mencapai target yang ditetapkan. Hingga akhir tahun 2025 lalu, jumlah kasus TBC yang berhasil ditemukan baru sekitar 60 persen dari target. Sehingga memerlukan keterlibatan dan kerja sama semua pihak, untuk mempercepat eliminasi penyakit menular tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H. Sarip Hidayat, S.KM., M.PH, mengungkapkan bahwa penemuan kasus TBC menjadi indikator penting dalam pengendalian dan pemutusan rantai penularan. Untuk bisa menemukan kasus, petugas kesehatan harus menjaring masyarakat yang memiliki gejala mengarah pada TBC.
“Target penemuan kasus TBC harus berdasarkan temuan masyarakat yang memiliki gejala. Sebelum 2025, total target penemuan mencapai 8.678 kasus. Pada 2025 ini, total kasus yang harus ditemukan meningkat menjadi 9.520 kasus,” jelas Sarip, Senin (5/1/2026).
Dari total tersebut, khusus pada tahun 2025, Kabupaten Sumbawa ditargetkan menemukan sekitar 1.600 kasus TBC baru. Namun hingga saat ini, jumlah temuan masih berada di kisaran 60 persen dari target yang telah ditetapkan.
“Kami ditargetkan menemukan 1.600 kasus dalam 2025. Namun baru sekitar 60 persen yang kami temukan,” ujarnya.
Sarip menegaskan, rendahnya capaian penemuan kasus bukan berarti kasus TBC menurun, melainkan masih banyak penderita yang belum terdeteksi. Karena itu, Dinas Kesehatan terus mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan proaktif memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada TBC.
“Bagi masyarakat yang mengalami batuk berkepanjangan, nafsu makan menurun, berat badan berkurang, serta sering berkeringat di malam hari, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan apakah yang bersangkutan menderita TBC atau tidak,” tegasnya.
Dalam rangka meningkatkan penemuan kasus, seluruh puskesmas di Kabupaten Sumbawa telah diminta untuk aktif turun ke lapangan. Petugas kesehatan didorong melakukan penelusuran kasus secara langsung di masyarakat, terutama pada kelompok berisiko. Namun demikian, Sarip mengakui bahwa pelaksanaan di lapangan tidak berjalan tanpa hambatan.
“Kami menghadapi banyak kendala. Masih ada daerah terpencil yang sulit dijangkau, keterbatasan akses transportasi, kurangnya informasi yang diterima masyarakat, serta minimnya tenaga medis di beberapa wilayah,” ungkapnya.
Kondisi tersebut berdampak pada lambatnya proses penemuan kasus, khususnya di wilayah-wilayah yang secara geografis sulit dijangkau. Padahal, menurut Sarip, keberhasilan eliminasi TBC sangat ditentukan oleh kemampuan daerah menemukan dan mengobati kasus sebanyak mungkin.
“Dalam rangka eliminasi TBC, kasus ini harus ditemukan sebanyak-banyaknya. Jika tidak ditemukan, maka tidak bisa diobati dan berpotensi terus menularkan ke orang lain,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa menaruh harapan besar pada sinergi semua pihak, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah desa, tokoh masyarakat, hingga peran aktif warga. Dengan kerja sama tersebut, diharapkan target penemuan 1.600 kasus TBC pada 2025 dapat dikejar dan diselesaikan.
“Jika kasus bisa ditemukan lebih awal dan segera diobati, maka penularan dapat ditekan. Ini menjadi langkah penting agar target nol kasus TBC pada 2030 bisa tercapai,” pungkas Sarip. (DS/02)

