Dinamikasumbawa.com
SUMBAWA- Pembangunan fisik sarana dan prasarana Kawasan Nelayan Modern Percontohan (KNMP) di Desa Labuhan Sangoro, Kecamatan Maronge, Kabupaten Sumbawa, dilaporkan berjalan sesuai rencana. Proyek yang dibiayai melalui program KNMP Tahap II tahun anggaran 2025/2026 dengan skema multiyears tersebut menyerap anggaran pemerintah pusat sebesar Rp11,10 miliar.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sumbawa melalui Kepala Bidang Perikanan Tangkap, H. Burhanuddin, S.Pi., menyampaikan bahwa hingga saat ini progres pekerjaan fisik di lapangan berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
“Pelaksanaan pembangunan masih berada pada jalur yang direncanakan dan berjalan dengan baik sesuai program perencanaan,” ujar Burhanuddin dalam keterangan persnya, Senin (9/3/2026).
Ia menjelaskan, pelaksanaan pembangunan sarana dan prasarana KNMP Tahap II di Desa Labuhan Sangoro dipercayakan kepada kontraktor pelaksana PT Tolping Jaya. Kontrak pekerjaan dimulai sejak 19 Desember 2025 dan dijadwalkan selesai pada Juni 2026, dengan masa pengerjaan selama 180 hari kalender menggunakan sistem tahun jamak.
Menurutnya, proyek tersebut mencakup pembangunan berbagai fasilitas pendukung aktivitas nelayan dan pengelolaan hasil perikanan. Sejumlah pekerjaan yang dilaksanakan meliputi pekerjaan persiapan, pembangunan dinding penahan tanah, shelter pendaratan ikan, pondasi gudang beku portabel, serta pondasi pabrik es portabel.
Selain itu, juga dibangun area parkir, shelter cold box, kios pembekalan nelayan, bengkel nelayan, kantor pengelola, toilet umum, serta tangki air dan sumur bor. Fasilitas lainnya berupa penerangan kawasan, tempat pembuangan sampah, bangunan gebetan, jalan lingkungan dan saluran drainase, gapura kawasan, pos jaga, serta pekerjaan levelling lahan dan pagar kawasan.
Tak hanya itu, proyek ini juga mencakup pembangunan balai pertemuan nelayan, gedung pemasaran ikan, serta instalasi pengolahan air limbah (IPAL) berbasis bioteknologi.
Burhanuddin menambahkan, kelancaran pelaksanaan proyek didukung oleh ketersediaan tenaga kerja, peralatan, serta pasokan material yang telah berada di lokasi pekerjaan.
Pihak pelaksana, kata dia, juga menerapkan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) selama proses pembangunan. Selain itu, langkah antisipatif terhadap potensi cuaca buruk maupun luapan sungai turut dilakukan agar pekerjaan tidak mengalami kendala berarti.
Untuk mempercepat progres, kontraktor juga menambah jam kerja melalui penerapan sistem shift, termasuk pekerjaan pada malam hari.
“Dengan dukungan tenaga kerja, peralatan, serta material yang tersedia di lapangan, kami optimistis proyek strategis ini dapat diselesaikan tepat waktu sesuai target yang telah ditetapkan,” katanya. (DS/02)

