Dinamikasumbawa.com
SUMBAWA- Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sumbawa kembali menyiapkan program Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) bagi masyarakat pada tahun ini. Program tersebut difokuskan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal agar siap bersaing dan terserap pada industri strategis. Khususnya sektor pertambangan yang direncanakan akan beroperasi di Kabupaten Sumbawa.
Sekretaris Disnakertrans Kabupaten Sumbawa, Auliah Asman, mengatakan pada tahun 2026 pihaknya merencanakan sekitar tujuh paket pelatihan kompetensi. Pelatihan akan dilaksanakan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Sumbawa dengan kejuruan yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri. Saat ini, seluruh kegiatan tersebut masih dalam tahap finalisasi dan penyelarasan dokumen administrasi agar dapat segera direalisasikan.
“Pelatihannya sekitar tujuh paket dan sekarang masih dalam proses penyelesaian dokumen. Harapannya, setelah semua rampung, pelatihan bisa langsung dilaksanakan,” ujar Auliah Asman usai menghadiri peresmian Gedung C RSUD Sumbawa di Sering, Selasa (20/1/2026).
Ia menjelaskan, arah kebijakan pelatihan tenaga kerja saat ini disesuaikan dengan kebutuhan pasar yang berkembang. Meski pemetaan kebutuhan tenaga kerja industri belum sepenuhnya final, permintaan terbesar masih didominasi sektor industri, terutama pertambangan. Mengingat, sebentar lagi perusahaan pertambangan akan mulai beroperasi di Kabupaten Sumbawa
Kondisi tersebut, terang Auliah, menjadi dasar Disnakertrans dalam menyusun jenis pelatihan yang relevan. Tentunya jenis pelatihannya berorientasi pada kebutuhan riil dunia kerja.
Menurut Auliah, PBK dirancang sebagai langkah antisipatif agar tenaga kerja lokal tidak hanya menjadi penonton ketika industri pertambangan mulai beroperasi. Dengan pelatihan yang tepat, masyarakat Sumbawa diharapkan memiliki keterampilan siap pakai dan mampu bersaing dengan tenaga kerja dari luar daerah.
“Paling tidak kita sudah menyiapkan langkah kerja. Ketika industri pertambangan benar-benar masuk, tenaga kerja lokal sudah siap digunakan, siap pakai, dan tidak kalah saing,” katanya.
Ia mengakui, salah satu tantangan utama saat ini adalah keterbatasan akses informasi terkait kebutuhan tenaga kerja industri yang masih bersifat dinamis. Namun demikian, Disnakertrans tetap melakukan pendataan dan pemetaan secara bertahap terhadap calon peserta pelatihan yang potensial.
“Walaupun belum bisa dipastikan seratus persen, kami tetap mendata kondisi kebutuhan tenaga kerja harian. Dari data sementara, sekitar 80 persen peserta pelatihan sebelumnya sudah terserap di dunia kerja,” ungkapnya.
Keunggulan dari Pelatihan Berbasis Kompetensi ini, lanjut Auliah, adalah seluruh peserta akan langsung mengikuti uji kompetensi dan mendapatkan sertifikat resmi. Sertifikasi tersebut menjadi bukti kemampuan peserta, baik dari sisi teknis maupun administrasi, sehingga memudahkan mereka untuk masuk ke dunia kerja formal, khususnya di sektor industri tambang.
“Dengan sertifikasi, kompetensi mereka jelas. Mereka tidak hanya punya keterampilan, tetapi juga diakui secara resmi dan diarahkan sesuai kebutuhan industri,” pungkasnya. (DS/02)

