Dinamikasumbawa.com
SUMBAWA — Kabupaten Sumbawa kian mengukuhkan posisinya sebagai daerah strategis dalam pengembangan sektor peternakan nasional. Melalui program Industrialisasi Unggas, daerah ini ditunjuk sebagai salah satu sentra pemenuhan kebutuhan daging ayam untuk wilayah Indonesia Timur, sejalan dengan visi Presiden Republik Indonesia dalam mewujudkan swasembada daging guna memenuhi kebutuhan protein masyarakat.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedy Heriwibowo, menjelaskan bahwa selama ini industri daging ayam nasional masih terpusat di Pulau Jawa dan Bali. Kondisi tersebut dinilai belum merata, terutama untuk menjangkau kebutuhan masyarakat di kawasan Indonesia Timur.
“Presiden menginginkan swasembada daging, khususnya daging ayam, agar kebutuhan protein masyarakat Indonesia dapat terpenuhi secara merata. Saat ini industri unggas masih terkonsentrasi di Jawa dan Bali, sehingga perlu didorong ke wilayah Indonesia Timur,” ujar Dedy, Senin (5/1/2026).
Dalam konteks itulah, Kabupaten Sumbawa dipilih sebagai salah satu lokasi pengembangan Industrialisasi Unggas. Melalui program ini, Sumbawa akan mendapatkan bantuan sebanyak 12 unit kandang ayam modern. Setiap kandang memiliki kapasitas 10 ribu Day Old Chick (DOC) atau bibit ayam, sehingga dalam satu siklus panen dapat menghasilkan sekitar 120 ribu ekor ayam.
“Jika dihitung dalam satu tahun dengan estimasi 10 siklus panen, maka Kabupaten Sumbawa berpotensi menghasilkan hingga 1,2 juta ekor ayam,” jelasnya.
Dengan kapasitas produksi tersebut, Dedy optimistis kebutuhan daging ayam di wilayah Indonesia Timur dapat terpenuhi secara bertahap. Produksi dari Sumbawa tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga untuk menopang pasokan daging ayam bagi daerah lain di NTB dan kawasan timur Indonesia.
Terpilihnya Kabupaten Sumbawa sebagai lokasi program bukan tanpa alasan. Dedy menyebutkan, daerah ini memiliki sejumlah keunggulan komparatif, mulai dari ketersediaan lahan yang luas, produksi jagung yang melimpah sebagai bahan baku pakan ternak, hingga dukungan sumber daya pendukung lainnya.
“Selain potensi alam, ada upaya luar biasa dari Bupati Sumbawa yang mampu meyakinkan pemerintah pusat bahwa Sumbawa siap melaksanakan program Industrialisasi Unggas ini,” ungkapnya.
Program Industrialisasi Unggas sendiri mengadopsi skema business to government. Dalam mekanisme tersebut, pemerintah daerah berperan memfasilitasi penyediaan lahan, sementara pelaksanaan teknis program dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Adapun pembiayaan program akan didukung melalui Danantara.
Menurut Dedy, skema ini memberikan banyak keuntungan bagi daerah. BUMN akan menangani aspek manajerial dan operasional utama, sementara tenaga kerja sebagian besar akan melibatkan masyarakat lokal.
“Dampak langsung yang akan dirasakan adalah terbukanya lapangan kerja baru. Masyarakat Sumbawa akan dilibatkan secara aktif, mulai dari operasional kandang hingga aktivitas pendukung lainnya,” katanya.
Selain mendorong penyerapan tenaga kerja, keberadaan industri unggas berskala besar di Sumbawa juga diyakini akan berdampak pada stabilitas harga dan ketersediaan daging ayam. Dengan pasokan yang lebih dekat dan berkelanjutan, masyarakat diharapkan dapat memperoleh daging ayam dengan harga yang lebih terjangkau dan distribusi yang lebih cepat.
“Pemenuhan kebutuhan daging ayam bagi masyarakat Sumbawa dan sekitarnya tentu akan lebih mudah, cepat, dan murah. Ini menjadi salah satu manfaat besar dari program ini,” pungkas Dedy. (DS/02)

