Dinamikasumbawa.com
SUMBAWA- Maraknya kejahatan digital di tengah masyarakat mendorong Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfotiksandi) Kabupaten Sumbawa untuk meningkatkan upaya pencegahan, melalui program sosialisasi literasi digital. Langkah ini dinilai penting mengingat masih rendahnya pemahaman sebagian masyarakat, terhadap penggunaan platform digital secara aman dan bijak.
Kepala Diskominfotiksandi Kabupaten Sumbawa, Drs. Hasanuddin, Kamis (5/2/2026), mengatakan perkembangan platform digital yang semakin beragam menuntut masyarakat agar lebih cermat dan selektif dalam mengakses informasi. Literasi digital menjadi kunci untuk mencegah masyarakat terjerat hoaks, penipuan daring, hingga berbagai bentuk kejahatan siber lainnya.
“Kita berharap masyarakat bisa lebih bijak dalam mengakses platform digital yang kini semakin banyak dan beragam. Masyarakat harus mampu menyaring informasi, memfilter konten yang beredar, baik di media sosial maupun situs digital,” ujar Hasanuddin.
Menurutnya, Diskominfotiksandi juga akan berperan aktif memberikan edukasi literasi digital ke berbagai kalangan, termasuk sekolah-sekolah dan komunitas masyarakat. Edukasi ini difokuskan pada pemanfaatan teknologi digital secara positif, aman, dan bertanggung jawab.
“Ke depan, kami akan terus memberikan edukasi literasi digital agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga memahami risiko dan cara menghindarinya,” jelasnya.
Hasanuddin menekankan pentingnya peran media massa dalam mendukung upaya tersebut. Mengingat keterbatasan sumber daya pemerintah, media dinilai memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan edukasi literasi digital kepada masyarakat luas.
“Kami berharap rekan-rekan media dapat membantu, tidak hanya menyampaikan informasi kegiatan pemerintah, tetapi juga ikut mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media digital,” katanya.
Terkait rencana sosialisasi yang lebih masif, Hasanuddin mengungkapkan pihaknya saat ini tengah merumuskan konsep edukasi yang tepat sasaran. Menurutnya, setiap segmen masyarakat memiliki karakteristik dan pola komunikasi yang berbeda, sehingga metode penyampaian literasi digital harus disesuaikan.
“Edukasi untuk orang tua tentu berbeda dengan anak muda atau anak-anak. Polanya sedang kami rumuskan agar edukasi yang diberikan benar-benar mengena dan tidak sekadar formalitas,” tegasnya.
Meski demikian, Diskominfotiksandi telah melakukan sejumlah langkah awal, seperti sosialisasi melalui komunitas, sekolah, serta pemanfaatan website dan media digital resmi milik pemerintah daerah. Ke depan, pihaknya juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan masukan demi penyempurnaan program literasi digital.
“Kami sangat terbuka terhadap masukan dari masyarakat dan media. Dengan begitu, program literasi digital yang kami susun bisa lebih komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” pungkas Hasanuddin. (DS/02)

