Dinamikasumbawa.com
SUMBAWA – Upaya pengurangan risiko bencana harus dimulai dari tingkat desa melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Penegasan itu disampaikan Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., saat membuka Workshop Koordinasi Multi Pihak Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Sumbawa bertema Penguatan Kolaborasi Ketangguhan Desa dalam Mendukung Implementasi Sumbawa Hijau Lestari di Aula H. Madilaoe ADT, Kantor Bupati Sumbawa, Kamis (6/8/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri kepala organisasi perangkat daerah, jajaran FPRB Kabupaten Sumbawa, akademisi, pemerintah desa, serta berbagai pemangku kepentingan yang berkomitmen memperkuat sinergi dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Dalam sambutannya, Bupati Sumbawa menegaskan bahwa pengurangan risiko bencana bukan semata menjadi tanggung jawab pemerintah atau relawan kebencanaan, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Menurutnya, budaya mitigasi harus dibangun melalui kepedulian terhadap berbagai potensi ancaman yang muncul di lingkungan sekitar.
“Jangan menunggu bencana terjadi baru kita bergerak. Ketika melihat potensi bahaya, segera lakukan tindakan. Itulah budaya mitigasi yang harus kita bangun bersama,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Bupati menginstruksikan seluruh pemerintah desa di Kabupaten Sumbawa untuk menggiatkan gotong royong membersihkan lingkungan sebagai langkah pencegahan dini terhadap berbagai potensi bencana.
Bupati mengatakan, Kabupaten Sumbawa memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, namun di sisi lain juga menyimpan berbagai potensi ancaman bencana. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Sumbawa terus memperkuat implementasi Program Sumbawa Hijau Lestari sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan upaya perlindungan masyarakat.
Menurutnya, konsep Sumbawa Hijau Lestari tidak hanya diwujudkan melalui gerakan menanam pohon, tetapi juga membangun kesadaran kolektif dalam menjaga ekosistem. Menanam pohon, kata dia, berarti menjaga sumber mata air, melindungi hutan dapat mengurangi risiko tanah longsor, pengelolaan sampah mampu menekan ancaman banjir, sedangkan pelestarian hutan mangrove menjadi benteng alami kawasan pesisir dari abrasi.
Selain itu, pemerintah daerah terus memperkuat pengawasan terhadap aktivitas pembalakan liar melalui pembentukan Satuan Tugas Hutan sebagai salah satu langkah menjaga kelestarian kawasan hutan.
Menutup sambutannya, Bupati mengajak seluruh perangkat daerah, camat, kepala desa, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dan Forum Pengurangan Risiko Bencana untuk terus memperkuat kolaborasi dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus membangun budaya kesiapsiagaan di tengah masyarakat.
Ia meyakini, pembangunan daerah hanya akan berkelanjutan apabila berjalan seiring dengan upaya pengurangan risiko bencana. Dengan kolaborasi yang semakin kuat, Sumbawa diharapkan menjadi daerah yang lebih tangguh menghadapi bencana, memiliki lingkungan yang lestari, serta mampu mewujudkan masyarakat yang unggul, maju, dan sejahtera.
Sementara itu, dalam laporan Ketua FPRB Kabupaten Sumbawa yang dibacakan Wakil Ketua I, Zainuddin, S.H., disebutkan bahwa workshop tersebut bertujuan memperkuat sinergi lintas sektor dalam upaya pengurangan risiko bencana sekaligus mendukung implementasi Program Sumbawa Hijau Lestari.
Sebanyak 73 peserta yang berasal dari unsur pemerintah daerah, pemerintah desa, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan mengikuti kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen membangun kolaborasi yang berkelanjutan dalam mewujudkan desa-desa yang tangguh terhadap bencana. (DS/02)

