Dinamikasumbawa.com
SUMBAWA– Pemerintah Kabupaten Sumbawa mulai menyusun rencana jangka panjang pengembangan Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III. Salah satu fokus utama yang kini memasuki tahap pra-feasibility study (Pra-FS) adalah perpanjangan runway atau landasan pacu sebagai upaya mendukung meningkatnya investasi dan berbagai program strategis nasional (PSN) di daerah.
Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Sumbawa, Lalu Suharmaji Kertawijaya, mengatakan penyusunan rencana tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Sumbawa sebagai bagian dari perencanaan pembangunan hingga 10 tahun ke depan.
Menurutnya, perencanaan harus dilakukan sejak dini mengingat Sumbawa diproyeksikan mengalami pertumbuhan aktivitas ekonomi yang signifikan. Sejumlah investasi dan proyek strategis nasional mulai berkembang, mulai dari pembangunan kawasan industri, sektor pertambangan, perikanan, hingga berbagai program pemerintah lainnya yang diperkirakan akan meningkatkan mobilitas orang maupun barang.
“Karena itu kita harus menyiapkan infrastruktur transportasi udara dari sekarang. Perencanaannya memang disusun untuk kebutuhan jangka panjang,” ujarnya, Senin (6/7/2026).
Ia menjelaskan, saat ini proses pengembangan bandara masih berada pada tahap Pra-FS. Kajian tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan pengembangan dalam jangka menengah maupun jangka panjang, termasuk berbagai aspek teknis yang harus dipenuhi sebelum proyek dapat direalisasikan.
Dalam rencana jangka panjang, runway Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III ditargetkan memiliki panjang sekitar 2.200 meter. Panjang tersebut dinilai sesuai dengan standar operasional agar pesawat berbadan sedang seperti Airbus maupun Boeing dapat beroperasi secara lebih optimal.
Sementara itu, panjang runway yang tersedia saat ini mencapai sekitar 1.800 meter. Dengan kondisi tersebut, pesawat Boeing 737 seri tertentu sebenarnya sudah dapat mendarat. Namun, operasionalnya masih memiliki keterbatasan, terutama terkait kapasitas muatan yang belum dapat dimaksimalkan.
“Runway 1.800 meter sebenarnya sudah bisa digunakan oleh pesawat Boeing tertentu, tetapi belum dapat beroperasi dengan full capacity. Karena itu kajian ini penting untuk menentukan kebutuhan pengembangan ke depan,” jelasnya.
Selain memperpanjang runway, Pemkab Sumbawa juga merencanakan penambahan sejumlah fasilitas pendukung bandara. Namun, seluruh kebutuhan tersebut masih akan dikaji secara komprehensif dalam studi kelayakan.
Suharmaji menegaskan, kajian tidak hanya menyangkut aspek teknis pembangunan landasan pacu, tetapi juga mempertimbangkan berbagai faktor lain. Termasuk kondisi topografi di sekitar bandara, kawasan operasi keselamatan penerbangan (KKOP), hingga kebutuhan pembebasan lahan apabila nantinya diperlukan.
“Semua itu akan menjadi bagian dari pembahasan dalam feasibility study. Sekarang kita belum bisa menyimpulkan kebutuhan lahannya karena masih harus melihat hasil kajian secara menyeluruh, termasuk dampak positif dan negatifnya,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai menempuh langkah jangka pendek untuk meningkatkan konektivitas penerbangan menuju Sumbawa. Salah satunya melalui pendekatan kepada sejumlah maskapai yang mengoperasikan pesawat sekelas Boeing 737 maupun pesawat dengan spesifikasi serupa yang masih dapat beroperasi di runway sepanjang 1.800 meter.
Beberapa maskapai yang menjadi opsi pendekatan diantaranya Super Air Jet, Citilink, serta TransNusa. Pemerintah berharap bertambahnya operator penerbangan dapat meningkatkan pilihan layanan bagi masyarakat sekaligus mendorong terciptanya persaingan yang berdampak pada penurunan harga tiket.
Menurutnya, upaya tersebut dilakukan sambil menunggu proses kajian pengembangan runway selesai. Pemerintah juga akan memetakan potensi pasar penerbangan, termasuk arah mobilitas penumpang yang selama ini didominasi menuju Surabaya maupun Makassar.
Suharmaji menambahkan, penyusunan studi kelayakan membutuhkan waktu yang tidak singkat, bahkan dapat berlangsung selama enam bulan hingga lebih dari satu tahun. Karena harus melibatkan berbagai masukan dari pemangku kepentingan.
“Intinya, dengan semakin banyaknya investasi dan program strategis nasional di Sumbawa, kita membutuhkan akses transportasi udara yang lebih cepat dan lebih baik agar mobilitas orang maupun barang semakin lancar,” pungkasnya. (DS/02)

