Dinamikasumbawa.com
SUMBAWA— Program percontohan budidaya udang tradisional berbasis energi terbarukan mulai direalisasikan di Kabupaten Sumbawa. Tim engineering PT Venambak Kail Dipantara telah turun langsung ke lapangan untuk memulai tahapan awal kegiatan di Desa Penyaring, Kecamatan Moyo Utara.
Program ini merupakan kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup melalui Indonesia Environment Fund (IEF), PT Venambak Kail Dipantara sebagai penyedia teknologi, Forum Udang Indonesia (FUI), serta didukung Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sumbawa dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kegiatan direncanakan berlangsung pada periode 2026 hingga 2027.
Kepala DKP Sumbawa, Rahmat Hidayat, S.Pi., M.T., Selasa (14/4/2026), mengatakan pemerintah daerah memberikan dukungan penuh terhadap program tersebut. Bahkan, Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., telah menginstruksikan agar segera dilakukan tindak lanjut.
“Sejak Senin (13/4/2026), tim engineering PT Venambak sudah mulai melakukan kegiatan lapangan, termasuk pengukuran dan pemetaan topografi menggunakan teknologi drone,” ujarnya.
Rahmat menjelaskan, program ini mengusung konsep budidaya udang tradisional yang dikombinasikan dengan pemanfaatan energi surya dan terintegrasi dengan ekosistem mangrove. Pendekatan ini dinilai sebagai inovasi budidaya udang cerdas iklim yang mampu meningkatkan tingkat kelangsungan hidup udang sekaligus menekan emisi karbon.
Dalam implementasinya, sejumlah intervensi akan dilakukan, antara lain peningkatan kualitas benur melalui sistem nursery pond, perbaikan standar operasional budidaya, serta penggunaan teknologi berbasis energi surya untuk aerasi, pompa, dan pemberian pakan.
Selain itu, program ini juga mengintegrasikan biofiltrasi karbon biru melalui penanaman mangrove atau rumput laut di area tandon, sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.
Rahmat menambahkan, benur udang akan dipelihara dari ukuran post larva (PL) 8 hingga 10 selama 25 hari di nursery pond, sebelum kemudian didistribusikan secara gratis kepada petambak rakyat. Namun, penerima manfaat diwajibkan menjalin kerja sama dalam penanaman mangrove.
Lokasi program dipusatkan di tambak milik Pemerintah Kabupaten Sumbawa seluas dua hektare di Dusun Omo, Desa Penyaring. Dari total lahan tersebut, sekitar 4.000 meter persegi akan dimanfaatkan untuk pembangunan fasilitas nursery pond dengan skema sewa lahan.
“Untuk kegiatan saat ini WWF nya tidak terlibat. Hanya dengan Forum Udang Indonesia (FUI) saja,” jelasnya. (DS/02)

